Memahami Bersuci Dalam Kehidupan Manusia - Halley Kawistoro

Latest

Blog Pribadi Sebagai Sarana Informasi mengenai Bahasa Indonesia Berupa Karya sastra Puisi Dan Cerita Pendek. Serta Berbagi Informasi dunia Pendidikan, Umum, kesehatan dan Berita.

18 September 2017

Memahami Bersuci Dalam Kehidupan Manusia



Salam hangat dan hormat
Kepada pembaca dan pengunjung sekalian
Memahami Bersuci Dalam Kehidupan Manusia
Oleh : Halley Kawistoro
Setetes air yang kotor membentuk sel, lalu menjadi segumpal darah yang terbungkus tulang dan daging. Sungguh nikmat mana yang tidak kita syukuri. Merupakan bahasa yang diartikan bila ia muslim dan memamahami makna dari rangkaian kalimat tersebut. Demi masa, waktu tidak akan pernah berhenti berjalan dan dia akan pergi menjauh dengan segala yang ditinggalkannya.
Jejak yang tertinggal dari perjalanan sebuah waktu adalah catatan yang akan terhitung semuanya melalui perbuatan-perbuatan dari yang paling besar sampai sebutir debu yang terbang terbawa angin. Seorang laki-laki akan dipertanyakan apa yang ia lakukan sebagai seorang pemimpin. Seorang wanita akan dipertanyakan apa yang ia lakukan sebagai seorang makmum. Seorang manusia akan dipertanyakan apa yang ia lakukan sebagai seorang umat. Seorang makhluk akan dipertanyakan apa yang ia lakukan sebagai seorang ciptaan.
Siapa yang bertanya dan kenapa harus dicari jawabannya. Sebelum pertanyaan-pertanyaan yang besar itu masuk kedalam pikiran anda dan membuat kita bingung. Ada hal kecil berkenaan tulisan yang penulis buat kali ini. Saya akan mengupas sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari yang berbunyi :

Dari abu hurairah        :  Ayna kunta yaa abaa hurayrah ? Subhaanallaah hi innal   mu’minaa laa yanjus.
Yang berarti : dimanakah engkau wahai abu hurairah ? Maha Suci Allah    Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis.           


Perbuatan mukmin yang tidak najis adalah ketika ia dalam keadaan suci. Setiap perjalanan waktu kita tak lepas dari najis, hadas besar dan kecil. Keadaan bila kita terhindar dari itu semua artinya kita Suci atau Bersih. Caranya dengan apa ? Bersucilah.
Bersuci
Keadaan seorang manusia tak lepas dari hal-hal yang bisa merusak kebersihan ( kesucian ) jiwa dan raganya. Secara sederhana penulis gambarkan keadaan orang yang terbebas dari semua kotoran ( najis ) dilakukan dengan bersuci. Kegiatan ini dilakukan dengan beberapa cara dan istilah yang bisa kita lakukan dan pahami secara umum. Membersihkan diri dengan menggunakan air yang mengalir, membersihkan tempat-tempat yang kecil dan berlub*ng. Bisa dikategorikan bersuci secara lahiriah. Biasa kita kenal dengan “Mandi”. Keadaan negara Indonesia yang memiliki dua musim dengan intensitas hujan yang tinggi sangat kita syukuri. Kegiatan untuk bersuci bisa kita lakukan sehari tiga kali atau dua kali.
Selanjutnya bersuci yang dimaksud oleh hadist diatas adalah kegiatan untuk membersihkan Najis. Penulis tidak akan mengupasnya secara menyeluruh. Melainkan dengan pandangan kita sebagai orang yang membaca dan memahami sebuah bahasa atau kajian umum. Najis diartikan segala sesuatu yang mengotori, membuat kotor, tubuh yang dikotori oleh hal-hal kotor yang disebut (najis). Najis berasal dari kotoran baik berasal dari manusia itu sendiri atau yang berasal dari kotoran lain seperti : air liur atau lidah anjing, darah hewan atau kotoran-kotoran nya makhluk lainnya yang  dikategorikan penyebab najis.
“Orang Mukmin Itu Tidak najis” kalimat ini bisa anda dan penulis pahami sebagai motto agar seorang mukmin mengenali keadaan dirinya sendiri. Secara lahiriah? Darimana dia? Hendak kemana? Manusia mengetahui keadaan suci tubuhnya. Maka bersuci tersebut dikaitkan dengan ibadah sholat. Bersuci untuk menunaikan ibadah sholah merupakan syarat sah nya seorang mukmin untuk sholat. Kesucian/kebersihan yang dibawa seorang mukmin untuk ibadah mendapat perhatian penting bahwa manusia adalah makhluk yang kotor dan harus bersuci untuk bertemu langsung PenciptaNya.
Kehidupan Manusia Untuk Bersuci
Melanjutkan pembahasan di atas. Kehidupan manusia sebagai makhluk yang bergerak menjadikan ia berhadapan dengan hal-hal yang bersifat najis. Penulis mangajak pembaca memahami najis secara luas yang berarti kotoran yang bersifat batiniah (Hati yang kotor). Najis yang diasumsikan luas tersebut biasa disebut juga sebagai penyakit hati.
Bersuci secara lahiriah tidak sama dengan bersuci secara batiniah. Tingkatan rasul dan nabi menjadi makhluk yang telah disucikan. Para wali yang mendapat gelar kesucian dari ketaantannya dan imam yang disucikan oleh pemahaman majelis umatnya. Anda dan saya mungkin hanya sebatas makhluk kotor yang berusaha mensucikan dirinya dari kekotoran jiwa dan pikiran; (a) Sebagai seorang anak kita bisa saja durhaka dan melukai orang tua, (b)sebagai teman kita bisa saja berprasangka dan saling menduga, (c) Sebagai seorang pasangan bisa saja kita menghianati sebuah perjanjian. (d) Sebagai orang tua bisa saja kita menerakakan anak kita dengan hal-hal negatif karena pengetahuan yang dangkal. Peran sebagai manusia memang  sebuah tugas yang diemban kita bersama sejak nafas ini berhembus dan lahir sebagai makhluk yang diberi akal pikiran. Segala kekotoran yang kita jajaki dari tingkah laku, ucapan bahkan prasangka buruk. Merupakan kotoran yang bisa diumpamakan sebagai najis.
Adapun tugas manusia dalam Kehidupannya adalah untuk bersuci dan mensucikan manusia lainnya melalui syariat dan perintah dari Sang Pembawa pesan Nabi Muhammad S.A.W. Bersucilah seakan engkau habis waktunya untuk membersihkan segala kotoran-kotoran hati. Tidak perlu, membicarakan keburukan manusia lainnya dan membenarkan diri sendiri. Bersuci adalah saat kita bisa menginstrospeksi diri secara menyeluruh, menyesali dan kembali kepadaNya. Semua khilaf, kesalahan dan perbuatan-perbuatan yang mengakibatkan luka kepada makhluk lain juga merupakan bentuk najis yang tidak tampak.
Penulis hanya mengajak pembaca untuk mengenal makna bersuci secara luas. Segala kekurangan dan khilaf adalah bentuk belum bersihnya saya selaku penulis. Semoga kita menjadi manusia yang selalu ingat pentingnya bersuci dalam kehidupan ini. Tiada kata seindah doa dan penulis untaikan juataan terima kasih telah membaca tulisan ini. Segala bentuk yang kita lakukan dan bermanfaat adala sebuah bentuk dimana kita telah perlahan-lahan mensucikan diri, serta menjadi pribadi yang positif bagi manusia lainnya. /HK-18/09/2017
Terimakasih orang tua, saudara, teman, dan pembaca semua. Kepada semua yang menjadi pembimbing dan guru saya, ku haturkan Hormat tertinggi.
Hormat saya,
Penulis

No comments:

Post a Comment

INFO LAINNYA

loading...
//