Cerpen Cermin Pengingat Waktu - Halley Kawistoro

Latest

Blog Pribadi Sebagai Sarana Informasi mengenai Bahasa Indonesia Berupa Karya sastra Puisi Dan Cerita Pendek. Serta Berbagi Informasi dunia Pendidikan, Umum, kesehatan dan Berita.

19 December 2017

Cerpen Cermin Pengingat Waktu

Cerpen Cermin Pengingat Waktu


Oleh: Halley Kawistoro

Rumah itu terbuat dari kayu yang mulai reot dimakan rayap. Bentuknya panggung dengan anak tangga tersusun tujuh. Derit suara paku ketika anak tangga itu dipijak. Hiduplah sebuah keluarga disana. Seorang kepala keluarga dengan istri soleha yang memberi tiga anak kepadanya.
Konon pria yang bernama IMAM itu seorang jawara, ahli kanuragan dan memiliki ilmu kebatinan tinggi. Setiap waktu rumah itu dikunjungi oleh tamu yang ingin meminta tolong. Peci hitam yang ia kenakan dan sabuk jawara menjadi penanda bahwa imam ingin di hargai. Tidak hanya imam, istrinya yang bernama Sahara juga sering dikunjungi oleh ibu-ibu sekitar yang memiliki anak kecil. Ibu-ibu itu meyakini sahara memiliki kemampuan untuk mengusir makhluk halus yang mengganggu anak kecil dan bayi.
Pasangan ini memang taat agama. Tindak tanduk mereka menjadi teladan bagi warga sekitar. Semua warga juga tahu bahwa pak Imam memiliki tanah berhektar yang ditanami karet dan sawit. Saat ini pak imam menerima pundi-pundi uang berjuta setiap harinya. Setiap pagi pak imam pergi menuju melihat kebun yang ia miliki. Di akhir minggu ia pergi ke panti asuhan, panti jompo, atau lembaga bantuan. Untuk mendermakan uang yang ia dapat.
Kehidupannya sederhana. Sambal teri, tahu, tempe dan lalapan daun ubi yang dia petik sendiri di tanah belakang rumahnya menjadi menu sehari-hari. Kebiasaan pak imam sehari-hari setelah beraktivitas adalah duduk di kursi goyang yang terbuat dari rotan sambil menikmati ubi rebus dan segelas kopi hitam.
Di ruang tamunya setelah sholat dzuhur ia memandang sebuah Cermin yang terpasang kokoh di hadapannya. Letaknya memang sedikit kebawah. Bayangann pak imam muncul ketika kursi yang ia goyangkan mencapai ke atas.
Air mata pak imam seringkali menetes tanpa terbendung karena memandang cermin tersebut. Cermin yang dibingkai kayu jati ini memang kokoh. Cermin itu juga sudah memiliki tiga buah tanda. Tanda itu merupakan tanda yang dibuat pak imam ketika emosinya memuncak. Sebuat tiga buah retakan yang memecah di cermin.
Retakan pertama pak imam buat saat ia menyesal telah meninggalkan ibadah di masa muda. Imam muda terkenal sebagai seorang Preman yang disegani. Minuman keras menjadi sahabatnya setiap hari.
“Hayo...siapa yang berani sama aku. Imam. Kalau berani maka kupecahkan kepa>la kalian nanti”
Ucap imam yang sedikit sempoyongan akibat minuman keras.
Pernah suatu hari ia bersitegang dengan aparat penegak hukum akibat perjudian.
“ hei imam kamu jangan sok hebat, apa kamu mau menerima timah panas ini” ucap lawan yang berseragam itu.
“ hei silahkan kau lesatkan senjata mu itu. selangkah pun aku tak akan mundur” jawab Imam.
Sekejap letusan senjata pun terdengar. Dahi imam sedikit mengeluarkan dara.h. namun imam tetap berdiri kokoh. Imam pun hendak mengejar lawannya yang lari terbirit-birit. Melihat imam yang marahnya memuncak. Kejadian itu menisbahkan imam menjadi seorang yang disegani karena nekat dan beraninya yang luar biasa.
Peristiwa itu pun melatarbelakangi kepulangan ayahnya. Ayah imam tiada akibat mendengar perseteruan tersebut akibat serangan jantung. Imam sedih dan memukul cermin di rumah orang tuanya dan meninggalkan satu tanda.
Imam lantas mendekatkan diri dengan yang maha kuasa. Setiap subuh kumandang adzan nya terdengar. Lirih, serak dan merdu suara imam mengumandangkan adzan. Rambutnya tak lagi gondrong. Perlahan-lahan tindik di telinganya mulai tertutup. Putih menghiasi dirinya setelah pakaian hitam yang selalu ia kenakan.
-----------------
Semenjak perubahan itu salah satu makmum wanita yaitu sahara putri dari seorang penceramah agama jatuh hati kepada imam. Mereka pun melangsungkan pernikahan.
Kenangan itu sedikit menghentikan ayunan kursi goyang pak imam. Lamunan nya semakin dalam. Mengenang tanda di cermin itu. sesekali ia mengusap pipinya dengan sapu tangannya sebab air mata yang menetes.
“mas gak istirahat siang” tanya ibu sahara kepada pak imam yang dalam lamunan.
“oh kamu ya dik. Kamu aja yang istirahat.” Jawab pak imam sambil tersenyum.
Ibu sahara pun masuk kamar untuk beristirahat siang.
Kursi goyang itu perlahan bergoyang. Lamunan pak imam kembali dalam.
Ia mengingat tanda kedua pada cermin tersebut. Dalam rumah tangga tentu ada masa renggang antara pasangan. Saat itu, ketika anak pak imam berjumlah dua dan ibu sahara lagi mengandung anak ketiga. Pak imam silap dengan gemerlap dunia. Pekerjaan nya yang dipakai sebagai pengawal dan jasa keamanan pribadi. Menyebabkan pak imam sering berkumpul sama cukong dan bos-bos besar.
Suatu waktu, pak imam pulang dan bau badannya terasa harum. Ada tanda merah di lehernya. Sesampai di rumah ibu sahara pun langsung menanyakan hal tersebut. Pak imam marah dan melayangkan sebuah tampa>ran ke wajah ibu sahara. Istrinya menangis mendapat perlakuan tak terduga sepeluh tahun berlalu pak imam tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar. Ini malah pukulan yang ibu sahara dapatkan. Istrinya menangis sambil memegang perutnya yang lagi mengandung dengan umur kandungan 8 bulan.
Pak imam terduduk meyesal dan ia berdiri menuju cermin. Ia pandangi dirinya. Dengan teriakan ia memberikan tanda berupa pukulan ke cermin tersebut.
Peristiwa tersebut menambah tanda di cermin yang selalu dipandang pak Imam ketika istirahat.
Rambut pak imam yang telah banyaj memutih menandakan ia tak muda lagi. Ia tahu ajalnya kian dekat. Di ambil nya gelas kopi itu lalu diseruputnya. Ia berdiri menuju cermin peneman istirrahatnya. Cermin itu diambil dan dibawa menuju kursi goyangnya.
Tatapan nya semakin dalam mengenang tanda ketiga dalam cermin itu. ia pun teringat dengan ketiga buah hati nya yang dewasa. Semuanya laki-laki. Senyumnya lebar dalam sepi. Anak-anak nya hanya datang berkumpul hanya ketika lebaran tiba. Sesekali salah seorang anaknya bergantian menelepon di akhir pekan.
Tanda ketiga yang dibuatnya merupakan kilas balik ia mengenal sang pencipta. Saat itu usianya 40 tahun. Selepas pulang dari acara peringatan keagamaan maulid nabi Muhammad SAW ia tersadar dan hijrah.
Ia pulang ke rumah menatap cermin memukul pelan cermin dengan tinjunya. Tanda ketiga itu pun terbentuk. Setiap tanda yang ia buat adalah dampak dari cincin yang dipakainya. Cincin itu memang pemberian kakeknya. Cincin itu yang dianggap memberikan dampak kehebatan kanuragan dan rasa berani yang tinggi. Dilepasnya cincin itu, lalu ia menuju kebelakang ia lemparkan cincinnya dan mengambil wudhu untuk melakukan sholat sunah dua rakaat dan menyerahkan diri kembali ke jalan Sang Pencipta.
Tangan pak imam semakin erat menatap cermin tersebut. Kembali senyumannya terkembang karena berhasil mendidik para ksatrianya. Anak pertamanya berprofesi sebagai seorang polisi yang jujur. Anak keduanya dipercaya menjadi hakim yang adil, dan anak ketiga nya menjadi guru yang berbudi.
Seperti tanda yang ia buat dengan retakan dicermin itu. seperti itu juga keberhasilan yang pak imam lakukan sebagai kepala keluarga. Air mata pak imam menetes di retakan cermin tersebut. Nafasnya mulai sengal. ia ucapkan dua kalimat syahadat dengan lirih, Ia pun terduduk menunduk dan kursi goyangnya berhenti bergerak.
SEKIAN
Semoga Bacaan diatas dapat menghibur, memberi inspirasi dan memeotivasi rekan-rekan sekalian. Sampai jumpa di bacaan lainnya.
Adapun bacaan yang bisa anda semua baca antara lain  sebagai berikut:
Hormat saya,

PENULIS

No comments:

Post a Comment

INFO LAINNYA

loading...
//